Ilustrasi Gas elpiji non subsidi. Foto: Int
Gas Elpiji dan BBM Nonsubsidi Naik Bersamaan, Ekonomi Masyarakat Kian Terjepit
Beranda / Ekonomi Bisnis /
Jakarta, www.radaroke.com - Kenaikan harga gas elpiji (LPG) nonsubsidi 12 kg dari Rp 192.000 menjadi Rp 228.000 menuai keluhan.
Pasalnya, penyesuaian harga ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok lainnya, sehingga semakin menekan kondisi ekonomi masyarakat.
Berdasarkan laman resmi Pertamina Patra Niaga yang dikutip Minggu (19/4/2026), harga elpiji nonsubsidi Bright Gas 12 kg di tingkat agen distribusi untuk wilayah Jawa Tengah, DKI Jakarta, hingga Jawa Timur kini mencapai Rp 228.000 per tabung.
Harga tersebut naik cukup signifikan dari sebelumnya sekitar Rp 192.000 per tabung.
Sementara itu, di wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Jambi, harga elpiji nonsubsidi bahkan mencapai sekitar Rp 230.000 per tabung.
Kelas Menengah Terjepit: Tak Bisa Subsidi, Tak Kuat Harga Pasar
Kenaikan harga elpiji (LPG) nonsubsidi di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebutuhan pokok lainnya menjadi tekanan baru bagi masyarakat, khususnya kelas menengah.
Mereka mengaku terjepit karena tidak berhak menggunakan gas subsidi, namun kesulitan mengikuti harga pasar yang terus meningkat.
Kondisi tersebut dirasakan warga setelah harga LPG nonsubsidi naik bersamaan dengan meningkatnya harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Dex dan Pertamax Turbo, serta bahan pangan di pasaran.
Hal ini dirasakan Michael (24), warga Kalideres, Jakarta Barat. "Baru tahu juga nih kalau harganya naik, lumayan juga Rp 40.000 kan, berasa juga kenaikannya," kata Michael mengutip kompas Senin (20/4/2026).
Michael menilai kenaikan harga gas semakin memberatkan karena terjadi bersamaan dengan melambungnya harga BBM dan sembako. Ia meyakini, kenaikan harga energi akan diikuti oleh lonjakan harga kebutuhan lain di pasaran.
Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi dampak kenaikan bahan bakar minyak nonsubsidi, seperti peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi hingga kenaikan harga kebutuhan pokok.
Ia menyoroti dampak kenaikan BBM nonsubsidi, khususnya oleh kelompok kelas menengah. Kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi meningkatkan beban pengeluaran rumah tangga serta menekan daya beli.
"Kondisi ini dapat memicu fenomena 'turun kelas energi', yaitu peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi," kata Firnando dalam keterangannya di Jakarta.
Ia menjelaskan pergeseran tersebut harus diantisipasi dengan pengawasan yang lebih ketat agar subsidi tetap tepat sasaran.
Sumber: Kompas
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
JANGAN LEWATKAN
Peresmian Yayasan Inspirasi Kreatif Muslim Tapanuli Dirangkai Mubes I IKMT Inhu, Wabup Hibahkan Tanah untuk Sekretariat
Inhu, www.radaroke.com — Tonggak baru bagi masyarakat Muslim Tapanuli di Kabupaten IndragiriPolres Inhil Ungkap Kasus Peredaran Sabu, Seorang Pengedar Diamankan di Tembilahan
Indragiri Hilir, www.radaroke.com – Satuan Reserse Narkoba Polres Indragiri Hilir kembaliMBG Digugat ke MK, Emak-Emak Bongkar Borok Makan Bergizi Gratis
Jakarta, www.radaroke.com - Gugatan terhadap program Makan Bergizi Gratis teregistrasi dengan NomorIni Alasan JK Ungkit Peran di Balik Jokowi Jadi Presiden?
Jakarta, www.radaroke.com - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan alasanWaspada, Ini Dampak Makeup untuk Anak-anak
Jakarta, www.radaroke.com - Saat ini, penggunaan makeup pada anak-anak semakin sering terlihat,Harga Naik Hingga 40 Persen, DPR Sarankan Masyarakat Bawa Plastik Sendiri
Jakarta, www.radaroke.com - Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan













Komentar Via Facebook :