Presiden Prabowo. Foto: Int
Rekor Buruk 1,5 Tahun Prabowo, Menuju Indonesia Gelap?
Beranda / Kupas Kasus /
Jakarta, www.radaroke.com - Menuju Indonesia gelap, demikian analisis tajam dari pengamat bernama Erizeli Jely Bandaro yang mencermati sejumlah rekor mengecewakan selama 1,5 tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Survei pelaku usaha menunjukkan bahwa sekitar 70 persen bahan baku industri nasional masih berasal dari luar negeri, sebuah rekor buruk yang tidak kunjung membaik.
Artinya, sebagian besar aktivitas produksi domestik saat ini tidak bertumpu pada fondasi lokal yang kuat, melainkan sangat bergantung pada input dari pasar global.
Erizeli Jely Bandaro mencatat bahwa ketergantungan terhadap impor ini bahkan lebih ekstrem dan mengkhawatirkan jika dilihat di sektor-sektor tertentu secara spesifik.
Rekor industri farmasi nasional menurut analisis Erizeli Jely Bandaro masih mengimpor sekitar 80 persen bahan bakunya dari negara lain tanpa perbaikan berarti.
Industri susu dan pangan tertentu juga berada pada kisaran ketergantungan impor yang sama tingginya menurut pengamatan Erizeli Jely Bandaro selama 1,5 tahun terakhir.
Industri kimia dasar dapat mencapai ketergantungan hingga angka 90 persen terhadap pasokan dari luar negeri, sebuah rekor yang sangat memprihatinkan.
Sementara sektor petrokimia, khususnya untuk komoditas nafta, hampir sepenuhnya bergantung pada impor tanpa alternatif lokal menurut Erizeli Jely Bandaro.
Dengan struktur ekonomi yang sangat rapuh seperti ini, Indonesia bukan sekadar pengguna impor biasa melainkan sandera rantai pasok global.
Negara ini terkunci secara sistemik dalam ketergantungan eksternal yang sulit diputus dalam waktu singkat selama satu setengah tahun kepemimpinan Prabowo.
Lalu apa yang sesungguhnya terjadi ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam periode pemerintah ini?
Dalam jangka pendek, sebagian pelaku usaha di sektor berbasis sumber daya alam memang diuntungkan dari pelemahan rupiah.
Keuntungan tersebut terutama berasal dari penerimaan devisa hasil ekspor atau DHE yang nilainya melonjak.
Namun keuntungan yang diperoleh oleh segelintir pelaku usaha ini tidak merata dirasakan oleh seluruh sektor industri.
Di sisi lain, beban biaya jasa seperti freight kapal melambung tinggi akibat pelemahan rupiah yang terus berlanjut.
Beban bunga utang korporasi yang dalam denominasi valuta asing juga ikut meningkat secara signifikan.
Dengan kata lain, keuntungan yang diperoleh di satu sisi langsung tergerus oleh biaya dan pengeluaran yang membengkak di sisi lain.
Erizeli Jely Bandaro menilai bahwa sektor yang paling terpukul justru adalah industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja.
Rekor buruk terjadi di sektor seperti tekstil, alas kaki, makanan dan minuman, hingga konstruksi bangunan yang terkena imbas paling parah.
Industri-industri ini sangat bergantung pada bahan baku impor atau produk antara yang terkait.
Ketika rupiah melemah, biaya produksi yang harus mereka keluarkan naik secara signifikan tanpa bisa dihindari.
Sementara itu, daya saing ekspor produk jadi tidak otomatis membaik karena struktur biaya tetap tinggi.
Di pasar domestik, kondisi semakin berat karena daya beli masyarakat yang terus melemah dari waktu ke waktu.
Di saat yang sama, harga barang naik akibat imported inflation dari melonjaknya biaya bahan baku impor.
Akibat dari semua tekanan ini, industri menghadapi tekanan ganda yang sangat berat sepanjang 1,5 tahun terakhir.
Margin keuntungan mereka tergerus sekaligus volume penjualan di pasar menurun drastis.
Dampak buruk dari pelemahan rupiah ini tidak berhenti hanya di sektor riil saja.
Ketika profitabilitas atau keuntungan dunia usaha menurun tajam, penerimaan negara dari sektor pajak ikut tertekan.
Penurunan penerimaan pajak ini secara langsung memperlebar defisit APBN yang sudah menganga.
Defisit yang melebar pada akhirnya mendorong peningkatan kebutuhan pembiayaan melalui utang baru.
Dalam kondisi kritis seperti ini, tekanan terhadap nilai tukar rupiah justru semakin besar dan memburuk.
Inilah siklus ekonomi setan yang terus berulang secara membabi buta tanpa solusi struktural.
Erizeli Jely Bandaro menyebut fenomena ini sebagai lingkaran setan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Akar masalahnya belum pernah disentuh secara serius oleh para pengambil kebijakan termasuk pemerintahan saat ini.
Selama struktur industri nasional masih bergantung pada impor bahan baku dan produk antara, pelemahan rupiah tidak akan pernah menjadi instrumen daya saing.
Pelemahan rupiah hanya akan menjadi sumber tekanan biaya yang pada akhirnya berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK secara masal.
Rekor PHK di berbagai sektor industri padat karya meningkat drastis selama 1,5 tahun pemerintahan Prabowo menurut catatan Erizeli Jely Bandaro.
Sayangnya, narasi kebijakan ekonomi yang berkembang sering kali berhenti pada optimisme yang bersifat populis dan mengelabuhi publik.
Pemerintah seolah terus mengulang narasi bahwa ekonomi tetap kuat di tengah tekanan struktural yang nyata dan mengkhawatirkan.
Padahal realitas di lapangan sangat sederhana namun menyedihkan menurut pandangan Erizeli Jely Bandaro.
Yang melemah bukan hanya rupiah saat ini, tetapi juga fondasi ekonomi kita sebagai sebuah bangsa.
Erizeli Jely Bandaro mengakhiri analisisnya dengan kesimpulan bahwa rasa harapan atau hopeless kini mulai menyelimuti kalangan pelaku usaha di tanah air.
Tanda-tanda menuju gelap semakin nyata terlihat dari berbagai rekor buruk yang terukir selama satu setengah tahun terakhir.
Sumber: Repelita
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
JANGAN LEWATKAN
Viral, Anak Makan Rumput Tak Pernah Terima Bansos, Ini Kata Dinsos
Bandung Barat, www.radaroke.com - Video Kiki yang memakan rumput viral di media sosial dan memicuPolsek Tapung Hilir Ungkap Pengedar Shabu, Amankan 11,02 Gram dan Uang Hasil Jual Beli Rp1,398 Juta
Tapung Hilir, www.radaroke.com - Polsek Tapung Hilir Polres Kampar berhasil mengungkap kasus127 Kali Beraksi, Sindikat Haji Ilegal Modus Visa Tenaga Kerja Ditangkap
Jakarta, www.radaroke.com - Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim PolriGegara Gagal Tarik Tabungan, Pria India Bawa Kerangka Adik ke Bank
New Delhi, www.radaroke.com - Seorang pria di India timur membawa sisa kerangka adiknya ke bank.Jadi Narasumber dalam Nusantara Young Leaders, Menteri Nusron: Semua Kebijakan Harus Memanusiakan Manusia
Banyumas, Radaroke.com-Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan NasionalSertipikasi Tanah Bawa Kepastian Hukum dan Beri Ketenangan Lebih untuk Masyarakat
Palangkaraya, Radaroke.com- Kepastian hukum atas tanah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.













Komentar Via Facebook :