Suasana sidang Gubri non aktif Abdul Wahid. Foto: Int
Sidang Abdul Wahid Memanas
Beranda / Kupas Kasus /
Pekanbaru, www.radaroke.com - Suasana sidang perkara dugaan pemerasan anggaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas PUPR-PKPP Riau dengan terdakwa Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid memanas.
Pasalnya, suasana di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri Pekanbaru, sempat diwarnai keributan yang melibatkan penasihat hukum saksi mahkota Dani M Nursalam dengan Asri Auzar yang hadir mengikuti jalannya persidangan.
Awalnya, keduanya terlibat adu argumentasi yang berlangsung cukup sengit. Suara mereka terdengar meninggi hingga mengundang perhatian pengunjung dan peserta sidang yang berada di dalam ruangan.
Situasi semakin memanas ketika kedua pihak saling mendekat dan nyaris terlibat baku hantam. Beruntung, sejumlah orang yang berada di lokasi langsung turun tangan melerai sehingga keributan tidak berlanjut menjadi perkelahian fisik.
Insiden tersebut sempat membuat suasana ruang sidang tegang. Namun kondisi berhasil dikendalikan dalam waktu singkat dan tidak sampai mengganggu jalannya persidangan secara keseluruhan.
Dinamika Persidangan
Dinamika persidangan mencapai puncaknya saat Tenaga Ahli Gubernur Riau, Dani M Nursalam dan Kepala Dinas PUPR-PKPP Riau, M Arief Setiawan dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai saksi mahkota.
Kesaksian mereka menguliti secara detail skema perputaran uang pelicin sebelum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT).
Saksi Mahkota Bongkar Kode Oleh-oleh
Setelah situasi kembali kondusif, Ketua Majelis Hakim, Delta Tamtama menolak keberatan tim advokat Abdul Wahid yang memprotes status saksi mahkota kedua terdakwa.
Dani kemudian memberikan kesaksian dibawah sumpah, membeberkan rencana penyerahan uang Rp1 miliar dari para Kepala UPT yang sudah diketahui oleh Abdul Wahid.
"Uang sudah ready dari kepala UPT. Saat itu dibahas teknis penyerahannya. Rencananya diserahkan tanggal 5 November," ungkap Dani.
Namun, sebelum target waktu tersebut tiba, muncul kebutuhan pendanaan mendadak untuk agenda ziarah sejumlah pejabat Pemerintah Provinsi Riau ke makam Tuanku Tambusai di Malaysia.
Dani menyebutkan, awalnya dana yang diminta sebesar Rp400 juta, lalu membengkak menjadi Rp450 juta karena ada tambahan peserta rombongan.
Dana tersebut kemudian diserahkan langsung oleh Arief kepada pihak bernama Marjani di area parkir.
Dani memastikan laporan penyerahan uang bernilai ratusan juta ini sampai ke telinga Abdul Wahid.
"Wahid menyampaikan bahwa uang itu sebagai uang saku untuk yang berangkat. Kemudian Marjani bilang, biar lebih halus disebut untuk oleh-oleh saja. Gubernur menjawab, terserah," urai Dani membeberkan percakapan di antara mereka di hadapan majelis hakim, Kamis (4/6/2026).
Target Rp1 Miliar Gagal
Lebih lanjut, persidangan membongkar bahwa dari komitmen awal Rp1 miliar, Arief hanya menyanggupi penyerahan bertahap.
Hal ini karena sebagian dana telah terpakai untuk menutupi biaya kepergian pejabat ke Malaysia.
1. Potongan Dana: Uang Rp1 miliar terpakai Rp250 juta untuk kebutuhan perjalanan ke luar negeri.
2. Sisa Setoran: Arief berjanji akan mengusahakan sisa uang sebesar Rp750 juta.
3. Persetujuan Gubernur: Laporan pemotongan dana ini telah disampaikan kepada Abdul Wahid dan disetujuinya.
"Sisa Rp750 juta itu belum tersampaikan karena terjadi OTT. Uang itu kemudian disita. Saya mengetahui hal itu setelah OTT," papar Dani.
Misteri Hilangnya Rekaman CCTV
Selain membongkar transaksi tunai, Dani juga menyoroti kejanggalan infrastruktur keamanan di kediaman resmi Gubernur Riau.
Ia memastikan sering melihat monitor CCTV dalam keadaan aktif dan berfungsi normal setiap kali melewati ruang operator.
Namun, perangkat penyimpanan rekaman atau Digital Video Recorder (DVR) tersebut mendadak raib saat KPK melakukan OTT, Senin (3/11/2025) lalu.
Dani mengungkap bahwa alat krusial tersebut memang sengaja diganti pada awal masa kepemimpinan Abdul Wahid untuk menghindari pelacakan.
"Setahu saya DVR sudah diganti di awal Wahid menjabat. Sempat ada pembicaraan mengganti DVR-nya karena dikhawatirkan terkoneksi dengan nomor-nomor lain," tambahnya menutup kesaksian di ruang sidang yang penuh sesak tersebut.
Sumber: Goriau
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
JANGAN LEWATKAN
Semarak Iduladha 1447 H, Menteri Nusron Salurkan Hewan Kurban ke Pondok Pesantren Attaqwa
Kabupaten Bekas, Radaroke.com - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan PertanahanSemarak Iduladha 1447 H, Menteri Nusron Salurkan Hewan Kurban ke Pondok Pesantren Attaqwa
Kabupaten Bekasi, Radaroke.com- Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan NasionalLayanan ATR/BPN di Pelayanan Satu Pintu Kota Tangerang Permudah Urusan Pertanahan Masyarakat
Tangerang, Radaroke.com- Dengan konsep berbagai layanan tersedia dalam satu lokasi terintegrasi,Layanan ATR/BPN di Pelayanan Satu Pintu Kota Tangerang Permudah Urusan Pertanahan Masyarakat
Tangerang, Radaroke.com- Dengan konsep berbagai layanan tersedia dalam satu lokasi terintegrasi,Sertipikat Tanah Hilang? Berikut Panduan Cara Mengurusnya
Jakarta, Radaroke .com- Kehilangan sertipikat tanah bisa terjadi karena berbagai kondisi,Jadi Simbol Nilai Luhur, Kementerian ATR/BPN Laksanakan Upacara Hari Lahir Pancasila
Jakarta,Radaroke.com- Nilai-nilai Pancasila tidak cukup diperingati setiap tahun, tetapi harus













Komentar Via Facebook :